Published: Thursday, 22 April, 2010

PENDAHULUAN

 

Berdasarkan data BPS tahun 2008, jumlah penduduk Indonesia tahun 2009 diperkirakan mencapai 240 juta jiwa, dengan komposisi hampir 2/3 adalah perempuan. Ditambah data statistik dari survey Sosial tahun 2007, menunjukkan bahwa 13,60 % atau sekitar enam juta rumah tangga di Indonesia dikepalai oleh wanita, dan menanggung 5 orang anggota keluarga. Secara tidak langsung hal ini menunjukkan bahwa paradigma perencanaan pembangunan, sudah seharusnya melibatkan trend tersebut. Bahwa perempuan sudah menjadi salah satu aktor kunci dalam proses pembangunan. Hal ini mengindikasikan perlunya melibatkan perempuan dalam kegiatan perencanaan kota. Beberapa implementasi peran perempuan dalam proses pembangunan perkotaan, telah menunjukkan beberapa keberhasilan. Diantaranya adalah beberapa pelopor wanita yang berkontribusi terhadap lingkungan dan penerima penghargaan Kalpataru 2008 adalah Sriyatun dari Surabaya dan Theresia Mia Tobi dari Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Sriyatun adalah wanita yang mengajak komunitasnya untuk mengelola sampah menjadi produk bernilai tambah yang akhirnya tidak saja mampu mensejahterakan penduduk sekitarnya,namun merubah wajah lingkungan permukiman yang tadinya kumuh menjadi lebih bersih dan tertata rapi. Keberhasilan Sriyatun tercatat telah diikuti 18 kecamatan di Kota Surabaya. Tidak hanya itu, kotakota lainpun telah mulai mengikutinya, diantaranya adalah Yogyakarta, Sumenep, Probolinggo, Sidoarjo, Sorong, Dumai, Jakarta dan beberapa kota di Lampung, Aceh dan Kalimantan.